Oest : Dalam Refleksi diri…

Belajar dari Hewan Sebagai Refleksi Akhir Tahun

Perjalanan hidup yang panjang ini tiap tahunnya memerlukan perubahan demi perubahan yang terkadang tak pernah terpikirkan oleh kita sebagai makhluk yang menggagas adanya perubahan itu. Pergantian tahun merupakan suatu tanda adanya kemajuan dan kemunduran sesuatu yang kita raih. Banyak hal yang perlu kita gali dari derasnya perubahan zaman yang berlalu di depan mata. Ada nilai positif dan negatifnya yang kerap mewarnai perjalanan panjang hidup kita yang harus kita ambil sebagai ibrah untuk menatap masa depan lebih bermakna.
Masih terngiang-ngiang di benak kita betapa dahsyatnya fenomena alam yang mengguncang dunia Desember tahun lalu. Kejahatan demi kejahatan mengukir angkasa dan menghujam bumi meninggalkan luka yang dalam bagi kita dan generasi mendatang. Sebut saja kejahatan terorisme, premanisme, seksual, korup, perdagangan bayi, menghalalkan segalan cara, dan masih banyak lagi. Lukisan-lukisan dengan tindasan merah menyala itu seakan menghakimi diri kita sendiri yang tengah menatapnya. Kita tidak pernah berbuat demikian tetapi kita turut merasakan dampak yang ditimbulkannya. Kita tidak pernah memikirkan dan membayangkan suatu terjadi karena ulah kita sendiri. Fenomena itu datang begitu cepat. Namun, pernahkah kita berkaca bahwa sesuatu itu ada berasap karena adanya api ?
Ingat, ketahuilah, dan sadarilah sedalam-dalamnya bahwa Allah tidak akan menguji suatu umat jika tak ada sebabnya. Alllah tidak akan menunjukkan kekuasaan-Nya jika Allah tidak menghendakinya demikian. Namun terkadang kita lupa terhadap apa yang telah diperbuat. Kita baru menyadarinya itu setelah semuanya terjadi. Kita baru tergugah hati mengulurkan tangan dan bantuan saat musibah itu datang menghadang. Mengapa bisa demikian ? Sebab kita tidak pernah bertanya pada diri sendiri mengapa orang lain bisa mengapa aku tidak, seandainya ini yang kulakukan apa yang terjadi kemudian, apa untung ruginya, dan sebagainya.
Sebagai bahan renungan bagi kita bahwa fenomena alam dan kekisruhan yang mencuat ke permukaan sampai merenggut nyawa dan banyak perhatian adalah kita penyebab utamanya. Untuk menghilangkan duka dan pelajaran mahal itu Allah sendiri yang mengibaratkannya dengan beberapa hewan ciptaan-Nya untuk kita cermati. Di antara hewan itu adalah merak, bebek, ayam, dan lebah.
Kita pun harus menyadari bahwa merak adalah burung yang amat cantik dan terindah di antara burung yang lain. Tak satu pun burung lain yang mampu mengalahkan keindahannya. Baik warna dan bentuk tubuhnya. Ini semua melukiskan tentang merak yang kerap bertingkah laku penuh dengan tipu daya, kemunafikan, kesombongan, kepongahan, keserakahan, dan yang selalu menganggap lainnya itu lebih rendah dan hina daripadanya.
Dengan bulunya yang indah, merak berkuasa untuk bertindak arogansi ,mementingkan dan membanggakan diri sendiri, menampilkan egoisme secara berlebihan, tanpa pernah memikirkan akibat yang ditimbulkan oleh tingkahnya itu. Terkadang juga, dengan sikapnya yang rada aneh itu, merak bebas leluasa bertindak, sebab yang dihadapinya adalah makhluk kecil yang tak bernyali dan bertaji. Namun di balik itu semua, merak tidak pernah memikirkan dari mana warna tubuhnya yang indah itu berasal. Dia berpikir hal itu bisa saja terjadi dengan sendirinya.
Kita juga harus belajar bagaimana seekor bebek itu hidup dan mengembangkan keturunannya. Bebek merupakan makhluk yang berparuh besar, panjang, dan lebar. Dengan paruhnya itu dia mampu berkelana sebebas mungkin tanpa harus berpikir lebih dahulu untung ruginya suatu pekerjaan yang dilakoninya. Mulutnya yang besar kerap kali menampilkan kebiasaan buruknya. Si bebek terus berkoar panjang lebar membicarakan saudaranya yang lain. Dia tidak akan pernah berhenti manakala mututnya belum terisi makanan lezat.
Dalam melakoni hidup ini bebek .senantiasa mencari makannya ke mana dia suka. Nyosor sana nyosor sini. Dengan paruhnya yang panjang, bebek mampu menembus genangan air yang sangat keruh walaupun banyak rintangan yang dibentengi dengan benteng yang kokoh. Bebek akan melibas semuanya. Yang besar, kecil, bahkan yang bukan menjadi haknya sendiri. Dia akan melakukan dengan segala cara yang menurutnya bisa mendapatkan keuntungan dan makanan yang sangat lezat. Baik itu di tempat basah, maupun di tempat yang kering sekalipun. Bebek akan gembira menyantapnya. Yang baik ataukah tidak sudah tidak dihiraukannya lagi. Yang penting perutnya terisi penuh. Nggak kelaparan dan bisa selamat dari maut. Bebek tidak akan pernah memperdulikan tetangga bahkan saudara kandungnya sendiri meskipun itu dalam keadaan sakit atau merana sekalipun.
Lain halnya dengan ayam jantan. Makhluk yang satu ini kerap pula berubah wajah dan prilaku. Si jantan dapat menjelma jadi manusia topeng yang aneh. Dialah makhluk bertopeng yang memiliki sejuta wajah. Terkadang ia baik, lain hari bisa berbuat nekad. Jika sedang baik, makanan kan dibaginya sama rata. Bahkan ia merelakan tidak makan. Buah hatinya akan dilindunginya setengah mati. Makhluk seperti ini akan mempertaruhkan raganya demi cinta dan kasihnya. Ayam jantan akan bekerja sekuat tenaga. Suaranya yang keras dan lantang mampu mengejutkan seluruh isi bumi. Gara-gara dia, semua bisa terjaga dari mimpi panjang.
Jika kenekadan si ayam jantan mencuat, semua akan dihajarnya habis-habisan dengan nafsu bejadnya yang luar biasa. Dia akan menantang lawan dengan caranya sendiri, merusak, dan menghancurkan segala penghalang di depannya dengan cara kasar dan tak berperasaan. Dia akan libas semuanya. Apakah yang kecil atau anak kandungnya sendiri, tua, maupun muda akan dilalapnya, dibuainya dengan mengumbar janji palsu dengan imbalan yang banyak, dan dia nggak takut walau dengan raja sekalipun. Hukuman baginya merupakan suatu hal yang dianggap kecil, sepele, dan tidak berarti.

Hal itu tentu bertolak belakang dan berbeda jauh dengan lebah. Dialah makhluk yang amat bersih cara hidupnya. Dia nggak mau berbuat curang, dia tidak serakah, tidak egois, dan amat mencintai sesama makhluk walau berbeda ras. Tempat makannya pun tidak sembarangan. Bukan dari periuk emas atau permata. Tidak, hanya dengan tempat sederhana, tempat yang bersih dan jauh dari kotoran najis.
Lebah tidak pula suka menggoda atau mengganggu ketentraman tetangganya. Karena itu merupakan suatu hal yang amat dilarang dalam lingkungan kerajaannya. Makhluk ini begitu patuh dan taat pada titah rajanya. Ia menerima apa adanya. Tidak banyak meminta, malahan lebih banyak memberi. Tidak pernah membantah apalagi menyakiti Pekerjaan dilakukannya dengan penuh kesabaran dan percaya diri, selesai tepat waktu, dan tidak pernah molor. Mereka senang berkumpul dan membagi rezeki.
Bila kita cermati benar prilaku binatang atau hewan tersebut, tentu kita akan bertanya pada diri sendiri, perilaku yang mana ada pada kita saat ini. Menghadapi tahun mendatang, kita dapat mengubah peradaban yang tak sesuai dengan harkat dan diri kita , jangan lagi kita saling menyalahkan, mengkambinghitamkan, membalikkan fakta, dan merasa kita yang paling benar, merasa kita yang paling bersih. Sekali-kali tidaklah demikian, tetapi mari kita isi dengan sesuatu yang penuh makna, melahirkan kasih sayang satu dengan lainnya, menumbuhkan sikap mempercayai dan menghargai sebagaimana Allah telah mengajarkan umat-Nya terdahulu.

31 Mei, Belajar dari Binatang” Hem….

Mari kita mundur lebih jauh, dan lihatlah. Tuhan pun menyuruh Ayub untuk belajar dari hewan. Mengapa harus lewat hewan? Karena kita bisa belajar dari sifat, kebiasaan dan cara hidup jutaan jenis hewan di dunia. Lihatlah etos kerja semut, yang selalu bekerja tanpa henti, mampu mengatasi berat yang jauh melebihi berat tubuhnya, dan selalu mampu bekerja sama. Salomo pun menulis: “Hai pemalas, pergilah kepada semut, perhatikanlah lakunya dan jadilah bijak” (Amsal 6:6). Rajawali merupakan burung yang kuat, mampu menembus badai, kepak sayapnya begitu kuat untuk menembus angin hingga bisa melayang-layang di langit tinggi. Alkitab pun berulangkali memakai gambaran rajawali dalam berbagai hal, salah satunya bisa kita lihat pada Ulangan 19:4. Domba menggambarkan kebergantungan penuh pada gembalanya, sampai Yesus sendiri pun digambarkan sebagai Anak Domba Allah. Karakter singa, kambing, ular, keledai, dan banyak lagi binatang bisa kita jumpai dalam alkitab. Dalam kehidupan sehari-hari pun kita bisa belajar banyak hal dari hewan. Perilaku ikan, burung-burung, dan lainnya, baik dari apa yang kita lihat maupun dari berbagai acara televisi yang menggambarkan kehidupan hewan, kita tetap bisa memetik pelajaran. Artinya, baik lewat karakter,kebiasaan dan cara hidup hewan yang kita lihat sehari-hari, maupun lewat gambaran yang kita dapati dalam alkitab, kita bisa belajar banyak dari semua itu.

Allah bisa memakai apapun untuk menyatakan kemuliaanNya, Allah bisa memakai apapun untuk mengajarkan kita, semua yang Dia ciptakan tidak ada yang sifatnya kebetulan dan semua ada dalam rencanaNya untuk mendatangkan kebaikan. Meskipun Dia tidak terlihat dengan mata, tidak berbicara pada kita seperti obrolan kita dengan sesama manusia, Tuhan ada dalam setiap sisi kehidupan kita dan selalu berbicara, mengingatkan serta mengajarkan kita untuk hidup benar, hidup kudus, hidup setia sesuai kehendakNya.

ULTAH SASA

Si Cantik yang satu ini pengin ngerayain ultahnya yang ke 13 tahun di star steak….alhamdulillah….kalau rezeki itu gak akan lari kemana…he…he….
Insya Alloh semuanya akan datang sayang…..

Tak akan kubiarkan diriku sakit…

Semoga kamu mendapat cukup kebahagiaan
untuk membuat kamu bahagia, cukup
cubaan untuk membuat kamu kuat, cukup
penderitaan untuk membuat kamu menjadi
manusia yang sesungguhnya, dan cukup harapan
untuk membuat kamu positif terhadap kehidupan.

Sangat luar biasa ketika saya mencermati penggalan kalimat inspiratif tersebut dan benar ketika saya merasakan memang kehidupan yang kita jalani tak akan menjadi semudah yang kita bayangkan. Ambil contoh nyata yang mungkin sering dialami ditempat kerja. Ketika kita bisa menujukkan prestasi kerja kita mungkin ada saja orang yang tidak suka. Dan dengan cara apapun dia akan melakukan sesuatu yang membuat kita sakit dan jengkel.

Manusiawi memang hal seperti itu terjadi. Di manapun kita berada pastinya kita akan dihadapkan dengan sesuatu yang sering tidak sesuai dengan keinginan kita. Tapi alangkah bijaknya ketika kita selalu berpikir positif dalam menghadapi situasi yang tidak kehendaki. Katakan buat apa sih kita susah-susah mengurusi orang yang tidak suka dengan prestasi kerja kita. Justru kita harusnya kasihan, karena sejatinya dia sakit.

Kehidupan itu ibarat proses untuk belajar. Belajar menempa kesabaran dan belajar melakukan yang terbaik dan belajar untuk terus menebar benih-benih kebaikan di sepanjang jalan kehidupan yang masih panjang terbentang. Memang tidak mudah untuk melakukan hal tersebut, akan tetapi alangkah lebih baiknya jika kita senantiasa berusaha melakukan hal yang baik dan positif ketimbang berfikir atau melakkan hal yang negativ.

Alloh telah membuka jalan kebaikan untuk manusia. Di manapun tempatnya jalan kebaikan akan senantiasa mendapatkan kemudahan. Seperti janji Alloh pula bahwa orang yang senantiasa berbuat baik akan mendapatkan kebaikan pula dan begitu pula sebaliknya. Satu hal yang perlu diingat bahwa Tugas kita bukanlah untuk berhasil. Tugas kita adalah untuk mencoba, karena didalam mencoba itulah kita menemukan dan belajar membangun
kesempatan untuk berhasil.

Ya…selamat mencoba untuk merajut jalan kehidupan yang lebih bermanfaat.

Amin

Pembasmi si sirik….

Selama menduduki posisi atau jabatan tertentu, ada saja teman yang tak suka dan iri kepada Anda. “Musuh-musuh” ini kerap membuat Anda berada dalam situasi tak mengenakkan.

Bahkan bisa jadi mereka menyepelekan prestasi Anda, bahkan tega menyusun siasat untuk menjatuhkan Anda. Singkat kata, teman-teman yang iri hati bisa menjadi musuh yang menghambat kemajuan karier Anda.

Rekan sekerja yang sangat iri hati dapat dengan mudah dikenali karena dia akan selalu berkompetisi dengan Anda dalam segala hal. Sedangkan musuh dalam selimut akan menunggu kesempatan untuk membeberkan kejelekan, kegagalan ataupun kesalahan yang Anda lakukan dan musuh tipe ini merupakan musuh yang paling berbahaya.

Ada dua cara dasar berhadapan dengan rekan sekerja yang iri hati, yaitu:
1) Jinakkan perasaan iri hati mereka, atau
2) Memberikan perlawanan terhadap usaha mereka
Sebelum memutuskan cara mana yang akan ditempuh, jawablah beberapa pertanyaan ini. Apakah perilaku Anda yang mereka salahkan? Apakah Anda melakukan sesuatu yang membuat mereka iri hati? Apakah Anda meremehkan rekan sekerja? Apakah Anda menyombongkan keberhasilan Anda?

Pertanyaan-pertanyaan di atas harus Anda tanyakan kepada diri sendiri bila Anda tidak ingin membuat orang lain membenci Anda. Bila Anda menyadari kekurangan Anda, usahakan untuk mengubahnya. Bersikaplah baik dan rendah hati. Bangun rasa percaya diri rekan sekerja Anda dengan menceritakan pengalaman atas keberhasilan yang Anda capai dan ajarkan rekan sekerja cara mencapai suatu keberhasilan.

1. Menjinakkan perasaan iri hati rekan sekerja
Bila dulu Anda bersikap arogan, ubah sikap ini dan coba berdamai dengan musuh-musuh Anda. Perlihatkan perubahan yang tulus. Demi karier, reputasi, dan kesehatan jiwa Anda, hindari pertengkaran atau perasaan yang tidak sehat di lingkungan kerja. Bila Anda melakukannya karena takut terhadap apa yang akan dilakukan oleh rekan sekerja Anda terhadap karier Anda, hal ini dapat langsung mereka kenali. Coba lakukan perubahan dengan tulus karena hal ini merupakan sikap yang profesional.

Berperilaku baik agar rekan sekerja menghargai Anda. Apakah Anda selalu ingin menang? Tidak ada kata terlambat untuk memperbaiki kesalahan di masa lalu. Percayalah, setiap orang dapat melakukannya. Berikut langkah yang bisa dilakukan:

- Utamakan tim
Jadilah orang yang selalu mengutamakan tim kerja ataupun anak buah. Tidak ada yang lebih penting daripada memberikan dukungan kepada orang-orang di sekitar Anda. Mencoba menjauhkan diri dari rekan yang iri hati justru akan membuatnya semakin iri dan membenci Anda.

- Mencegah perasaan iri hati
Bila Anda dapat mengenali rekan sekerja atau bawahan yang tidak puas dan dapat merasakan bahwa kemungkinan dia akan membenci Anda, Anda dapat mencegah perasaan iri hatinya. Sekali-sekali berikan pujian. Bersikap rendah hati serta kenali perasaan iri hatinya dan antisipasi.

- Luangkan waktu
Sempatkan diri Anda untuk memberikan selamat kepada rekan sekerja atas keberhasilan yang mereka capai. Anda sendiri harus berusaha untuk tidak iri hati karena perasaan iri hati sangat mudah terlihat oleh orang lain. Bila Anda memiliki perasaan iri hati atau memperlihatkan perilaku yang negatif, Anda akan mendapatkan respons yang serupa.

2. Melakukan perlawanan
Bila Anda tidak sanggup menjinakkan perasaan iri hati dari rekan sekerja, Anda harus melakukan sesuatu demi reputasi Anda. Bila Anda difitnah, Anda harus dapat membuktikan bahwa apa yang dikatakan orang mengenai diri Anda tidak betul. Jangan balas fitnahan dengan fitnahan, karena hal ini hanya memperburuk keadaan. Jangan berhenti memberikan pujian kepada rekan sekerja atas prestasinya, selalu tersenyum dan bersemangat, kerja keras dan hindari gosip dan bergosip.

- Dukungan dari pimpinan
Salah satu yang harus dilakukan bila Anda akan membela diri Anda adalah mencari dukungan pimpinan karena hal ini dapat membuat rekan sekerja yang iri hati kepada Anda menjadi segan dan tidak berani menciptakan masalah.

- Jangan bersikap lemah dan rapuh.
Bicarakan permasalahan yang Anda hadapi dengan atasan Anda di ruang tertutup dengan cara yang resmi. Utarakan kekhawatiran Anda dan selalu sampaikan setiap kemajuan yang Anda rasakan.

- Catat setiap perselisihan
Catat setiap masalah yang terjadi antara Anda dan rekan sekerja yang iri hati untuk menjadi bukti bila diperlukan. Usahakan untuk bersikap profesional. Jangan terpengaruh jika dia bersikap kasar. Kendalikan diri Anda. Bila Anda terpancing melakukan suatu tindakan yang tidak terpuji maka hal ini akan merugikan karier Anda.

- Beri kesempatan kepada mereka untuk mundur
Hindari sikap mengancam ataupun sikap yang membuat musuh Anda tak berdaya. Anda perlu ingat bahwa Anda mencoba menghindari pertengkaran besar oleh karena itu beri kesempatan kepada musuh Anda untuk mundur. Beri kelonggaran agar hubungan Anda tetap baik. Bila tiba-tiba musuh Anda bersikap manis dan ramah, Anda tidak perlu curiga. Mungkin dia berusaha untuk minta maaf dengan caranya tanpa mengorbankan harga dirinya. Sebaiknya Anda terima usahanya tersebut agar perselisihan Anda tidak meruncing.

Berhadapan dengan rekan sekerja yang iri hati sering membuat Anda berada dalam situasi yang sulit untuk dihindari. Berusahalah untuk menjadi pemain tim yang baik dan kurangi perasaan iri hati mereka sebelum timbul masalah. Antisipasi segala sesuatu yang bersifat negatif sedini mungkin.



Akibat dengki…..

Saya  iba,  saya  kasihan kepada  orang-orang  yang  dengki, karena  mereka sedang sakit, dengki adalah penyakit  yang  sangat usah  dan  sukar  mengobatinya. Orang dengki  selalu  resah  dan
gelisah.  Resah melihat kelebihan orang, gelisah melihat kebahagiaan orang, matanya liar mengintip kelebihan  yang menimpa orang lain  dan dia cemburu, Telinganya di buka lebar-lebar ingin  tahu rahasia  orang,  mulutnya “monyong” komat  kamit  dan  bergunjing kesana  sini,  mempergunjingkan dan kalau perlu  memfitnah  orang yang di dengkinya. Dia susah tidur, fikirannya selalu pada  orang lain, dan fikirannya  tak pernah merasa puas dan di dalam hatinya  tak  ada  rasa syukur. Dia tidak bisa konsentrasi,  dia  tak  bisa  menyatukan dan mengarahkan fikirannya, karena fikiran dan hatinya selalu terbelah, terbelah karena ingin “mencikaroi” orang lain.
Saya  lebih kasihan lagi karena orang pendengki  tak  pernah tenang dan tentram, matanya telinganya dan hatinya di penuhi oleh  debu-debu  kedengkian.  Tak boleh melihat orang lebih.  Dia  akan berusaha  melalui ucapan dan perbuatannya untuk  menjatuhkan  dan mencelakakan  orang lain. Kalau tak mampu sendiri dia minta  bantuan  pada orang lain.Kalau orang lain juga tak mampu  dia  minta  pertolongana pada mahkluk halus dan pada syetan. Kalau perlu  biar  sama-sama  tidak mendapat atau sama-sama kehilangan,  asal  orang  yang  di dengki itu jatuh dan celaka. “Ndak lalu dandang  di  aie didarek di tajakkan juo”.

Saya  teringat  cerita seorang teman  tentang  seorang  yang  dengki  tidak  boleh melihat tetangganya  berlebih. Satu  kali  dia  dapat keberuntungan, dia boleh minta apa saja pasti  dikabulkan, “memintalah”  kata  sang dewa “Kau boleh meminta apa  saja,  tapi   ingat  setiap kali kau meminta “satu”, aku akan  beri  tetanggamu “dua”.  Lantas dia berfikir kalau aku meminta sebuah mobil  tentu  tetangga  akan dapat dua mobil. Kalau aku minta rumah satu  tentu  dewa akan memberi tetangga dua buah rumah. Setelah dia  berfikir-fikir, lalu dia meminta dan berdo’a : “Butakanlah mataku sebelah,  agar  tetangga  bisa buta kedua matanya”. Biar dia  “Celek”  asal tetangganya “Buta”. Kira-kira begitulah penyakit yang diidap oleh si  pendengki. Dia menghancurkan dan merusak dirinya sendiri  dan juga  menghancurkan dan merusak orang yang di dengkinya.  Berbulu  matanya  dan berbulu hatinya melihat kelebihan orang  lain.  Baru  senang hatinya kalau orang lain sengsara dan dia selalu  berlebih  dari orang lain.

Saya lebih kasihan lagi sewaktu mendengar petuah sang  guru. “Si pendengki itu bagaikan sedang menyalakan kayu api yang mersik untuk membakar segala amal kebaikan yang pernah di kerjakannya”.
Oh  betapa ibanya kita pada orang yang sedang di  timpa  penyakit  dengki.  Dia  sudah payah-payah membuat amal  kebaikan,  kemudian  dalam  waktu sekejap semua amal kebajikan itu ludes dimakan  api, sebagaimana api sedang membakar kayu yang mersik.
Rasa iri yang bertengger di hati, dengki dari mana asalnya ? Lalu  saya coba balik-balik buku catatan saya  tentang  iri  dan dengki.  Para  pembaca, inilah cacatan yang  saya  salin  sewaktu  mendengar ceramah guru saya.
Hasad berarti berbuat dengki, pelakunya di sebut hasid yaitu  orang  yang  pendeki.  Lalu kata guru saya  dengki  ini  termasuk  tatanan penyakit mental.
Stadium pertama dari penyakit mental ini disebut dengan  iri  hati, yaitu tak senang melihat orang lain mendapat  kenikmatan, hatinya berbulu, kalau  tak segera di sembuhkan maka penyakit ini meningkat dan naik jadi hasad, yaitu iri hati plus ia ingin  agar kesenangan orang itu lenyap dari orang itu. Pada taraf Ini syetan sudah  bersarang dan bertahta dalam lubuk jiwanya.  dan  berharap  dan  berupaya supaya  kesenangan yang di rasakan orang lain itu,  hilang  pada orang itu dan kesenangan  itu  berpindah  padanya.
Stadium  ketiga kata guru saya adalah dendam. yaitu dengki  plus.  Dimana timbul keinginan menyakiti orang itu. Semua  penyakit  ini, iri, dengki dan dendam,  pada  awalnya  berasal dari ria. Ria adalah rasa pamer ingin memperlihatkan  apa  yang  ada  pada  dirinya, suka menceritrakan apa  yang  ada  pada
dirnya  agar  dia dapat pujian. Komplikasi ria  ini  adalah  iri,  dimana dia takut kalau orang lain yang di puji. Orang Ria,  kagum  pada  diri  sendiri dan dia menuntut agar orang  lain  juga  ikut memujinya. Komplikasi berikutnya adalah dengki. Maka ia  berupaya agar kesenangan itu hilang dari orang. Ini sudah merusak  pergau lan.
Yang ke tiga ialah takabur, sifat merasa dirinya besar, yang lain  kecil. Orang lain kecil remeh. Yang hebat, yang  cakap  dan yang berarti hanya aku.
Orang menjadi pendeki karena dia hanya tahu penomena  karena  tak  sanggup mencari hakekat. Ia hanaya tahu kulit tapi tak  tahu isi. Dia mengerti kwantita tapi tak tahu kualita.

Orang  yang  tak  tahu hakikat ini gampang  iri  dengki  dan  dendam.  Karena  tak dapat mebedakan kuantita  dan  kualita.  Dia  mengalami proses pendangkalan iman, erosi iman.
Memang diantara berbagai penyakit ruhani, dengki atau  hasad  adalah salah satu yang paling berbahaya  untuk kehidupan manusia.  Kita  disebut   dengki kepada seseorang  jika kita  tanpa  alasan  yang  jelas,  apalagi alasan yang adil, serta  merta  tak  senang  kepada segala kelebihan  atau keutamaan  yang di punyainya,  Ber bareng dengan itu kita terdorong melakukan firnah yi berita buruk  yang  tak  benar atau palsu. Jadi kedengkian  adalah  pertarungan  sepihak  si  pendengki menyerang sasaran  tanpa  sasaran  itu mengetahui  apalagi  berdaya  mengelak dan  melawan.  Karena  itu  kedngkian  acap kali  benar-benar mencelakakan  atau  menjatuhkan orang yang menjadi sasaran itu

Saya teringat pesan Rasulullah “Jauhilah olehmu kedengkian, sebab kedengkian itu  memakan segala kebaikan  seperti api  memakan kayu bakar yang kering “. Kerna dalam kedengkian itu   dengan sendirinya tersembunyi keinginan agar orang lain celaka,  sebagai bukti ada kepalsuan dalam perbuatan baik kita, karenanya  seluruh perbuatan baik kita akan musnah, ibarat rumah kertas yang dilahap  api  kedengkian  sendiri sebab apalah arti  kebaikan  jika  tidak dilandasi oleh itikad kebaikan, semua amal tergantung pada niat.
Dengki dapat menjadi pangkal kesengsaraan  orang bersangkutan sendiri. Dan memang tak ada orang yang dengki yang tidak menanggung  jenis kesengsaraan  tertentu . Mengapa? Sebab perasaan benci kita  kepada seseorang  yang menjadi sasaran kedengkian kita justru kebahagiaan  orang lain.

Berarti  bahwa “Kebahagiaan ” orang lain itu hanyalah  hasil refleksi   atau  pantulan kaca situasi batin  yang  merasa  tidak bahagia.   “Rumput  di balik pagar sendiri nampak  lebih  segar”.
Jadi  dibalik, berarti rumput dalam pagar sendiri  selalu  nampak lebih layu. Akibat rasa rendah diri, tapi dapat lebih gawat yaitu akibat   ke  tidak mampuan bersyukur kepada  Allah.  Itu  berarti bahwa secara  tidak sadar  kita mendefinisikan  kehidupan  kita pada kehidupan orang lain, jika ia bahagia kita merasa sengsara, dan  jika ia sengsara kita merasa bahagia, maka  seorang  pendeki dengan  sendirinya   selalu gelisah, karena  di  hantui   perasan kalah dengan orang lain. dan kesengsaraan itu menjadi-jadi ketika kedengkian  nya  itu membuat nya bertindak hanya  sekedar  hendak mengalahkan orang lain. Itu tindakkan tidak sejati  dan tindakkan tak  sejati mustahil membawa ke bahagiaan.
Maka untuk menangkal kedengkian, kita harus selalu pandai bersyukur kepada alah. Dengan memnajatkan puji syukur dan mensyukuri apa-apa yang telah di beri dan di tentukan Tuhan untuk kita, akan mengurangi dan menghilangkan rasa dengki dan iri. Disamping itu kita uga minta  perlindungan pada Allah terhadap orang-orang yang Hasid apabila dia  dengki.

Untuk  semua itu saya teringat akan sebuah  Firman  Suci_Nya dalam  Al_qur’an   surat Al Falaq ayat 5  :”Aku  berlindung  dari kejahatan orang yang dengki apabila ia dengki “.

Bicara Cinta….

Hem,,,

Memang tidak akan pernah ada habisnya jika kita berbicara tentang kata yang satu ini. Ya, “CINTA” pesonanya telah mengukir sejarah yang tak akan musnah oleh masa.

Pernahkah kita berfikir, mengapa kita menutup mata ketika kita tidur?

Mengapa kita menutup mata ketika kita menangis ?
Mengapa kita menutup mata ketika kita membayangkan sesuatu ?
Mengapa kita menutup mata ketika kita berciuman ?

Jawabannya adalah karena hal hal yang indah di dunia biasanya tidak terlihat….

Sadar atau tidak, mau mengakui atau tidak ada hal-hal yang tidak ingin kita lepaskan dan ada orang-orang yang tidak ingin kita tinggalkan. Bukankah begitu?

Tapi perlu kita satu hal bahwa melepaskan bukan berarti akhir dari dunia
melainkan awal dari kehidupan yang baru. Jika kita mau berfikir dan merenungkan bahwa sesungguhnya, kebahagiaan itu ada untuk orang yang menangis, kebahagiaan itu ada untuk orang-orang yang  tersakiti, dan kebahagiaan itu ada untuk orang-orang yang telah mencari dan mau mencoba sesuatu. Karena merekalah yang bisa menghargai
Betapa pentingnya orang yang telah menyentuh kehidupan mereka.

Cinta adalah ketika kerinduan melingkupi hati, rindu yang tak akan pernah bisa untuk dipadamkan.

Cinta adalah ketika kamu menitikkan air mata, tetapi masih peduli terhadapnya
Cinta adalah ketika dia tidak mempedulikanmu, kamu masih menunggunya
dengan setia
Cinta adalah ketika dia mulai mencintai orang lain dan kamu masih
bisa tersenyum
sambil berkata , ” Aku turut berbahagia untukmu ”

Hem, Luar biasa bukan?

Orang yang terkuat bukanlah orang yang selalu menang dalam segala hal

Orang yang yang hebat bukanlah orang yang tidak pernah melakukan kesalahan, tapi orang yang hebat adalah orang yang hebat adalah orang yang mau mengakui kesalahan dan berusaha memperbaikinya.

Tetapi mereka yang tetap tegar ketika mereka jatuh
Entah bagaimana, dalam perjalanan kehidupanmu,
Kamu akan belajar tentang dirimu sendiri dan suatu saat kamu akan
menyadari
Bahwa penyesalan tidak seharusnya ada di dalam hidupmu
Hanyalah penghargaan abadi atas pilihan pilihan kehidupan yang telah
kau buat
Yang seharusnya ada di dalam hidupmu

Sahabat sejati akan mengerti ketika kamu berkata, ” Aku lupa ”
Sahabat sejati akan tetap setia menunggu ketika kamu berkata, ”
Tunggu sebentar ”
Sahabat sejati hatinya akan tetap tinggal, terikat kepadamu
ketika kamu berkata, ” Tinggalkan aku sendiri ”

Saat kamu berkata untuk meninggalkannya,
Mungkin dia akan pergi meninggalkanmu sesaat,
Memberimu waktu untuk menenangkan dirimu sendiri,
Tetapi pada saat saat itu, hatinya tidak akan pernah meninggalkanmu
Dan sewaktu dia jauh darimu, dia akan selalu mendoakanmu dengan air
mata

Lebih berbahaya mencucurkan air mata di dalam hati
daripada air mata yang keluar dari mata kita
Air mata yang keluar dari mata kita dapat dihapus,
Sementara air mata yang tersembunyi,
Akan menggoreskan luka di dalam hatimu
yang bekasnya tidak akan pernah hilang

Walaupun dalam urusan cinta, kita sangat jarang menang,
Tetapi ketika cinta itu tulus…
meskipun mungkin kelihatannya kamu kalah,
Tetapi sebenarnya kamu menang karena kamu dapat berbahagia
sewaktu kamu dapat mencintai seseorang
Lebih dari kamu mencintai diri kamu sendiri…

Akan tiba saatnya dimana kamu harus berhenti mencintai seseorang
Bukan karena orang itu berhenti mencintai kita
Atau karena ia tidak mempedulikan kita
Melainkan saat kita menyadari bahwa orang itu
Akan lebih berbahagia apabila kita melepasnya
Tetapi apabila kamu benar benar mencintai seseorang,
Jangan dengan mudah kita melepaskannya
Berjuanglah demi cintamu… Fight for your dream !
Itulah cinta yang sejati..
Bukannya seperti prinsip ” Easy come.. Easy go… ”

Lebih baik menunggu orang yang benar benar kamu inginkan
Daripada berjalan bersama orang ” yang tersedia ”
Lebih baik menunggu orang yang kamu cintai
Daripada orang yang berada di ” sekelilingmu ”

Lebih baik menunggu orang yang tepat
Karena hidup ini terlalu berharga dan terlalu singkat
Untuk dibuang dengan hanya ” seseorang ”
Atau untuk dibuang dengan orang yang tidak tepat

Kadang kala, orang yang kamu cintai adalah orang yang paling
menyakiti hatimu
Dan kadang kala teman yang membawamu di dalam pelukannya
Dan menangis bersamamu adalah cinta yang tidak kamu sadari

Ucapan yang keluar dari mulut seseorang
Dapat membangun orang lain, tetapi dapat juga menjatuhkannya
Bila bukan diucapkan pada orang, waktu, dan tempat yang benar
Ini jelas bukan sesuatu yang bijaksana

Ucapan yang keluar dari mulut seseorang
Dapat berupa kebenaran ataupun kebohongan untuk menutupi isi hati
Kita dapat mengatakan apa saja dengan mulut kita
Tetapi isi hati kita yang sebenarnya tidak akan dapat dipungkiri

Apabila kamu hendak mengatakan sesuatu..
Tataplah matamu di cermin dan lihatlah kepada matamu
Dari situ akan terpancar seluruh isi hatimu
Dan kebenaran akan dapat dilihat dari sana

Hem, sebuah inspirasi yang luar biasa bukan. Bukan berarti ketika saya memposting artikel ini, saya adalah orang yang hebat, orang yang kuat. saya sama jua dengan anda. Sayapun merasakan baaimana itu mencinta dan dicinta. Cinta jika kita sikapi dengan baik, maka akan memberikan efek yang baik dan begitu sebaliknya…..

Semoga bermanfaat…

Belajar mensikapi Hidup..

Terkadang kita merasa putus asa saat kita dihadapkan dengan suatu masalah. Mengeluh dan mengeluh bahkan sampai berprasangka buruk terhadap sang maha pencipta. Ya, begitulah kita. Sadar atau tidak kita sering melakukannya. Tapi cobalah sejenak kita belajar dari kisah yang akan saya sampaikan berikut ini dan mencoba mengambil hikmah dari semuanya:

Seorang anak sedang bermain dan menemukan kepompong  kupu-kupu di sebuah dahan yang rendah. Diambilnya kepompong tersebut dan tampak ada lubang kecil disana.

Anak itu tertegun mengamati lubang kecil tersebut karena terlihat ada seekor kupu-kupu yang sedang berjuang untuk keluar membebaskan diri melalui lubang tersebut. Lalu tampaklah kupu-kupu itu berhenti mencoba, dia kelihatan sudah berusaha semampunya dan nampaknya sia-sia untuk keluar melalui lubang kecil di ujung kempompongnya.

Melihat fenomena itu, si anak menjadi iba dan mengambil keputusan untuk membantu si kupu-kupu keluar dari kepompongnya. Dia pun mengambil gunting lalu mulai membuka badan kepompong dengan guntingnya agar kupu-kupu bisa keluar dan terbang dengan leluasa.

Begitu kepompong terbuka, kupu-kupu pun keluar dengan mudahnya. Akan tetapi, ia masih memiliki tubuh gembung dan kecil. Sayap-sayapnya nampak masih berkerut. Anak itu pun mulai mengamatinya lagi dengan seksama sambil berharap agar sayap kupu-kupu tersebut berkembang sehingga bisa membawa si kupu-kupu mungil terbang menuju bunga-bunga yang ada di taman.

Harapan tinggal harapan, apa yang ditunggu-tunggu si anak tidak kunjung tiba. Kupu-kupu tersebut terpaksa menghabiskan sisa hidupnya dengan merangkak di sekitarnya dengan tubuh gembung dan sayap yang masih berkerut serta tidak berkembang dengan sempurna. Kupu-kupu itu akhirnya tidak mampu terbang seumur hidupnya.

Si anak rupanya tidak mengerti bahwa kupu-kupu perlu berjuang dengan usahanya sendiri untuk membebaskan diri dari kepompongnya. Lubang kecil yang perlu dilalui akan memaksa cairan dari tubuh kupu-kupu masuk ke dalam sayap-sayapnya sehingga dia akan siap terbang dan memperoleh kebebasan…

(Surce : Setengah Isi, Setengah Kosong – Parlindungan Marpaung)

Seperti itulah gambaran masalah yang kita hadapi sehari-hari. Masalah ada bukan untuk kita hindari, melainkan kita hadapi. Karena dengan masalah lah kita bisa belajar untuk menjadi lebih kuat, lebih dewasa, lebih bijak, dan lebih-lebih lainnya.

Tuhan tidak bodoh dengan menciptakan masalah untuk kita. Justru karena Dia sayang pada kita umat manusialah masalah itu diciptakan sedemikian rupa. Namun, jika kita sadari di Kitab Suci (Al-Qur’an) pun Allah bersabda dan menjanjikan yang intinya adalah masalah yang diturunkan kepada kita, tidak akan pernah melebihi batas kemampuan kita untuk menyelesaikannya.

Artinya, Allah sudah tahu seberapa besar kemampuan kita untuk menerima masalah tersebut. Orang yang sangat amat lemah, tentu porsi masalahnya lebih sedikit. Sedangkan orang yang punya banyak kelebihan, masalahnya juga banyak.

Dari sini kita bisa sedikit berkaca dan merenungi. Kenapa masalah kita seakan-akan lebih berat dari orang lain? Simpel saja, karena di mata Allah kita jauh lebih baik dari orang yang masalahnya itu-itu aja (enteng). Karena kita lebih baik, tentu porsi masalahnya lebih ruwet dong. Anak sekolah kan juga seperti itu. Makin naik kelas, makin sulit pelajarannya, makin sulit juga ujiannya.

Jadi bagaimana sikap kita seharusnya terhadap masalah?

  1. Sadari Anda mampu menghapi semua masalah yang ada! Anda percaya dan yakin sama Tuhan kan! Kalau percaya dan yakin, tentu Anda tidak meragukan lagi firmanNya yang mengatakan bahwa setiap masalah yang kita hadapi tidak akan melebihi batas kita menanggungnya.
  2. Jangan menghidari masalah! Kita memang sebisa mungkin jangan mencari masalah, namun bila masalah datang hadapi semua masalah Anda. Selesaikan satu persatu. Anda tentu tidak mau kan menjadi seperti kupu-kupu yang tidak bisa terbang, hanya gara-gara semua urusan dipermudah.
  3. Selalu ada kebaikan dibalik semua masalah! Masalah memang kelihatannya mengganggu, namun harus selalu ada dalam hidup kita. Kenapa? Agar kita tahu seberapa besar kemampuan kita. Dan agar kita bisa terus berkembang sepanjang hidup ini dengan belajar mengambil hikmah dari setiap masalah yang kita hadapi. Yakinkan diri Anda, bahwa setiap satu masalah berhasil Anda selesaikan, Anda sudah menjadi satu pribadi yang lebih baik dari sebelumnya
  4. Fokus pada hasil akhir, bukan pada masalahnya! Masalah biasanya timbul ketika kita sedang dalam proses pencapaian suatu tujuan, apapun itu. Maka dari itu daripada kita mengeluhkan masalah-masalah yang ada, lebih baik berfokus pada hasil akhirnya. Ini akan membuat Anda lebih kuat. Apalagi dengan fokus pada tujuan akhir, akan sangat membantu Anda untuk tetap positive feeling dan positive thinking (silahkan dibaca lagi, biar tahu apa efek dua positive ini).

Mungkin ada yangt menganggap bahwa saya tidak pernah berkeluh kesah saat ada masalah yang datang menghadang dalam hidup ini. Ups… tunggu dulu! Karena saat saya memposting artikel ini, bukan berarti saya adalah orang paling jago menyelesaikan masalah. Tidak. Saya pun sama seperti Anda, berusaha dan belajar untuk menyelesaikan masalah yang ada satu persatu. Karena saya juga manusia bermasalah.

Kadang-kadang ada pemikiran juga pengen quit dan berhenti memperjuangkan dream.. Tapi TIDAK, karena ketika keputusan untuk quit saya ambil maka itu sama artinya dengan saya membuang DREAM saya untuk hidup passive income di usia muda.

Padahal ketika kita mau menyadari bahwa masalah itu ada untuk menguatkan dan membuat kita lebih baik. Tentu akan ada semangat dalam diri kita untuk menyelesaikan semua masalah itu. Selesaikan saja satu persatu, dan pada akhirnya Anda akan takjub betapa luar biasanya diri Anda karena sudah mampu melewati itu semua.

So mulai sekarang berkomitmenlah untuk selalu siap menghadapi masalah yang datang dalam hidup Anda. Jangan banyak mengeluh! Lakukan saja, karena Tuhan tahu yang terbaik untuk kita.

Percayalah satu hal bahwa Alloh itu maha adil. Alloh telah meletakkan semua perkara manusia sesuai dengan praporsinya. Tak ada satupun manusia yang diberi suatu ujian melebihi batas kemampuannya.

Tetap semangat menjalani setiap situasi yang kita hadapi, kapanpun, di manapun, dalam bentuk apapun, percayalah Alloh akan senantiasa menolong kita.

Soffiya….

Resep Hidup Bahagia….

Seandainya kita bertanya kepada orang-orang di sekeliling kita dari berbagai agama, bangsa, profesi dan status sosial tentang cita-cita mereka hidup di dunia ini tentu jawaban mereka sama “kami ingin bahagia”. Bahagia adalah keinginan dan cita-cita semua orang. Orang mukmin ingin bahagia demikian juga orang kafir pun ingin bahagia. Orang yang berprofesi sebagai pencuri pun ingin bahagia dengan profesinya. Melalui kegiatan menjual diri, seorang pelacur pun ingin bahagia. Meskipun semua orang ingin bahagia, mayoritas manusia tidak mengetahui bahagia yang sebenarnya dan tidak mengetahui cara untuk meraihnya. Meskipun ada sebagian orang merasa gembira dan suka cita saat hidup di dunia akan tetapi kecemasan, kegalauan dan penyesalan itu merusak suka ria yang dirasakan. Sehingga sebagian orang selalu merasakan kekhawatiran mengenai masa depan mereka. Terlebih lagi ketakutan terhadap kematian.

Allah berfirman dalam surat Al Jumu’ah ayat 8:

قُلْ إِنَّ الْمَوْتَ الَّذِي تَفِرُّونَ مِنْهُ فَإِنَّهُ مُلاَقِيكُمْ ثُمَّ تُرَدُّونَ إِلَى عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ

“Katakanlah: Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada yang mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.” (QS. Al Jumu’ah: 8)

Banyak orang yang beranggapan bahwasanya orang-orang barat adalah orang-orang yang hebat. Mereka beranggapan bahwasanya orang-orang barat hidup penuh dengan kebahagiaan, ketenteraman dan ketenangan. Tetapi fakta berbicara lain, realita di lapangan menunjukkan bahwa secara umum orang-orang barat itu hidup penuh dengan penderitaan. Hal ini dikuatkan dengan berbagai hasil penelitian yang dilakukan oleh orang-orang barat sendiri tentang kasus pembunuhan, bunuh diri dan berbagai tindakan kejahatan yang lainnya, namun ada sekelompok manusia yang memahami hakikat kebahagiaan bahkan mereka sudah menempuh jalan untuk mencapainya. Merekalah orang-orang yang beriman kepada Allah. Mereka memandang kebahagiaan itu terdapat dalam sikap taat kepada Allah dan mendapat ridho-Nya, menjalankan perintah-perintahNya dan meninggalkan larangan-larangan-Nya.

Boleh jadi di antara mereka yang tidak memiliki kebutuhan pokoknya setiap harinya, akan tetapi dia adalah seorang yang benar-benar bahagia dan bergembira bagaikan pemilik dunia dan segala isinya.

Allah berfirman,

قُلْ بِفَضْلِ اللهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَلِكَ فَلْيَفْرَحُوا هُوَ خَيْرٌ مِّمَّا يَجْمَعُونَ

“Katakanlah: Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Karunia Allah dan rahmat-Nya iti dari apa yang mereka kumpulkan.” (QS. Yunus: 58)

Jika mayoritas manusia kebingungan mengenai jalan yang harus ditempuh menuju bahagia maka hal ini tidak pernah dialami oleh seorang mukmin. Bagi seorang mukmin jalan kebahagiaan sudah terpampang jelas di hadapannya. Cita-cita agar mendapatkan kebahagiaan terbesar mendorongnya untuk menghadapi beragam kesulitan.

Terdapat berbagai keterangan dari wahyu Alloh sebagai kabar gembira bagi orang-orang yang beriman bahwasanya dirinya sudah berada di atas jalan yang benar dan tepat Allah berfirman:

وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلاَتَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ ذَالِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Dan bahwa (yang kami perintahkan ini) adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalannya. yang demikian itu diperintahkan Allah agar kamu bertakwa.” (QS. Al An’aam: 153)

Jika di antara kita yang bertanya bagaimanakah yang dirasakan bagi orang-orang yang bahagia dan orang-orang yang celaka maka Allah sudah memberikan jawaban dengan firman-Nya:

فَأَمَّا الَّذِينَ شَقُوا فَفِي النَّارِ لَهُمْ فِيهَا زَفِيرٌ وَشَهِيقٌ خَالِدِينَ فِيهَا مَادَامَتِ السَّمَاوَاتُ وَاْلأَرْضُ إِلاَّمَاشَآءَ رَبُّكَ إِنَّ رَبَّكَ فَعَّالٌ لِّمَا يُرِيدُ وَأَمَّا الَّذِينَ سُعِدُوا فَفِي الْجَنَّةِ خَالِدِينَ فِيهَا مَادَامَتِ السَّمَاوَاتُ وَاْلأَرْضُ إِلاَّ مَاشَآءَ رَبُّكَ عَطَآءً غَيْرَ مَجْذُوذٍ

“Adapun orang-orang yang celaka, Maka (tempatnya) di dalam neraka, di dalamnya mereka mengeluarkan dan menarik nafas (dengan merintih), Mereka kekal di dalamnya selama ada langit dan bumi, kecuali jika Tuhanmu menghendaki (yang lain). Sesungguhnya Tuhanmu Maha Pelaksana terhadap apa yang dia kehendaki. Adapun orang-orang yang berbahagia, maka tempatnya di dalam surga, mereka kekal di dalamnya selama ada langit dan bumi, kecuali jika Tuhanmu menghendaki (yang lain); sebagai karunia yang tiada putus-putusnya.” (QS. Hud: 106-108)

Jika di antara kita yang bertanya-tanya bagaimanakah cara untuk menjadi orang yang berbahagia, maka Alloh sudah memberikan jawabannya dengan firman-Nya,

ٌّفَإِمَّا يَأْتِيَنَّكُم مِّنِّي هُدًى فَمَنِ اتَّبَعَ هُدَايَ فَلاَ يَضِلُّ وَلاَيَشْقَى وَمَنْ أَعْرَضَ عَن ذِكْرِى فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَى

“Barang siapa yang mengikut petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka. Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta.” (QS. Thoha: 123-124)

Dan juga dalam firman-Nya,

مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِّن ذَكَرٍ أَوْ أُنثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَاكَانُوا يَعْمَلُونَ

“Barang siapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. An-Nahl: 97)

Kebahagiaan seorang mukmin semakin bertambah ketika dia semakin dekat dengan Tuhannya, semakin ikhlas dan mengikuti petunjuk-Nya. Kebahagiaan seorang mukmin semakin berkurang jika hal-hal di atas makin berkurang dari dirinya.

Seorang mukmin sejati itu selalu merasakan ketenangan hati dan kenyamanan jiwa. Dia menyadari bahwasanya dia memiliki Tuhan yang mengatur segala sesuatu dengan kehendak-Nya.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Sungguh menakjubkan keadaan orang-orang yang beriman. Sesungguhnya seluruh keadaan orang yang beriman hanya akan mendatangkan kebaikan untuk dirinya. Demikian itu tidak pernah terjadi kecuali untuk orang-orang yang beriman. Jika dia mendapatkan kesenangan maka dia akan bersyukur dan hal tersebut merupakan kebaikan untuknya. Namun jika dia merasakan kesusahan maka dia akan bersabar dan hal tersebut merupakan kebaikan untuk dirinya.” (HR. Muslim dari Abu Hurairah)

Inilah yang merupakan puncak dari kebahagiaan. Kebahagiaan adalah suatu hal yang abstrak, tidak bisa dilihat dengan mata, tidak bisa diukur dengan angka-angka tertentu dan tidak bisa dibeli dengan rupiah maupun dolar. Kebahagiaan adalah sesuatu yang dirasakan oleh seorang manusia dalam dirinya. Hati yang tenang, dada yang lapang dan jiwa yang tidak dirundung malang, itulah kebahagiaan. Bahagia itu muncul dari dalam diri seseorang dan tidak bisa didatangkan dari luar.

Tanda Kebahagiaan

Imam Ibnu Al Qoyyim mengatakan bahwa tanda kebahagiaan itu ada 3 hal. 3 hal tersebut adalah bersyukur ketika mendapatkan nikmat, bersabar ketika mendapatkan cobaan dan bertaubat ketika melakukan kesalahan. Beliau mengatakan: sesungguhnya 3 hal ini merupakan tanda kebahagiaan seorang hamba dan tanda keberuntungannya di dunia dan di akhirat. Seorang hamba sama sekali tidak pernah bisa terlepas dari 3 hal tersebut:

1. Syukur ketika mendapatkan nikmat.

Seorang manusia selalu berada dalam nikmat-nikmat Allah. Meskipun demikian, ternyata hanya orang berimanlah yang menyadari adanya nikmat-nikmat tersebut dan merasa bahagia dengannya. Karena hanya merekalah yang mensyukuri nikmat, mengakui adanya nikmat dan menyanjung Zat yang menganugerahkannya. Syukur dibangun di atas 5 prinsip pokok:

  1. Ketundukan orang yang bersyukur terhadap yang memberi nikmat.
  2. Rasa cinta terhadap yang memberi nikmat.
  3. Mengakui adanya nikmat yang diberikan.
  4. Memuji orang yang memberi nikmat karena nikmat yang dia berikan.
  5. Tidak menggunakan nikmat tersebut dalam hal-hal yang tidak disukai oleh yang memberi nikmat.

Siapa saja yang menjalankan lima prinsip di atas akan merasakan kebahagiaan di dunia dan di akhirat. Sebaliknya, jika lima prinsip di atas tidak dilaksanakan dengan sempurna maka akan menyebabkan kesengsaraan selamanya.

2. Sabar ketika mendapat cobaan.

Dalam hidup ini di samping ada nikmat yang harus disyukuri, juga ada berbagai ujian dari Allah dan kita wajib bersabar ketika menghadapinya. Ada tiga rukun sabar yang harus dipenuhi supaya kita bisa disebut orang yang benar-benar bersabar.

  1. Menahan hati untuk tidak merasa marah terhadap ketentuan Allah.
  2. Menahan lisan untuk tidak mengadu kepada makhluk.
  3. Menahan anggota tubuh untuk tidak melakukan hal-hal yang tidak di benarkan ketika terjadi musibah, seperti menampar pipi, merobek baju dan sebagainya.

Inilah tiga rukun kesabaran, jika kita mampu melaksanakannya dengan benar maka cobaan akan berubah menjadi sebuah kenikmatan.

3. Bertaubat ketika melakukan kesalahan.

Jika Allah menghendaki seorang hamba untuk mendapatkan kebahagiaan dan keberuntungan di dunia dan akhirat, maka Allah akan memberikan taufik kepada dirinya untuk bertaubat, merendahkan diri di hadapan-Nya dan mendekatkan diri kepada Allah dengan berbagai kebaikan yang mampu untuk dilaksanakan. Oleh karena itu, ada seorang ulama salaf mengatakan: “Ada seorang yang berbuat maksiat tetapi malah menjadi sebab orang tersebut masuk surga. Ada juga orang yang berbuat kebaikan namun menjadi sebab masuk neraka.” Banyak orang bertanya kepada beliau, bagaimana mungkin hal tersebut bisa terjadi?, lantas beliau menjelaskan: “Ada seorang yang berbuat dosa, lalu dosa tersebut selalu terbayang dalam benaknya. Dia selalu menangis, menyesal dan malu kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Hatinya selalu sedih karena memikirkan dosa-dosa tersebut. Dosa seperti inilah yang menyebabkan seseorang mendapatkan kebahagiaan dan keberuntungan. Dosa seperti itu lebih bermanfaat dari berbagai bentuk ketaatan, Karena dosa tersebut menimbulkan berbagai hal yang menjadi sebab kebahagiaan dan keberuntungan seorang hamba. Sebaliknya ada juga yang berbuat kebaikan, akan tetapi kebaikan ini selalu dia sebut-sebut di hadapan Allah. Orang tersebut akhirnya menjadi sombong dan mengagumi dirinya sendiri disebabkan kebaikan yang dia lakukan. Orang tersebut selalu mengatakan ’saya sudah berbuat demikian dan demikian’. Ternyata kebaikan yang dia kerjakan menyebabkan timbulnya ‘ujub, sombong, membanggakan diri dan merendahkan orang lain. Hal-hal ini merupakan sebab kesengsaraan seorang hamba. Jika Allah masih menginginkan kebaikan orang tersebut, maka Allah akan memberikan cobaan kepada orang tersebut untuk menghilangkan kesombongan yang ada pada dirinya. Sebaliknya, jika Allah tidak menghendaki kebaikan pada orang tersebut, maka Allah biarkan orang tersebut terus menerus pada kesombongan dan ‘ujub. Jika ini terjadi, maka kehancuran sudah berada di hadapan mata.”

Al Hasan al-Bashri mengatakan, “Carilah kenikmatan dan kebahagiaan dalam tiga hal, dalam sholat, berzikir dan membaca Al Quran, jika kalian dapatkan maka itulah yang diinginkan, jika tidak kalian dapatkan dalam tiga hal itu maka sadarilah bahwa pintu kebahagiaan sudah tertutup bagimu.”

Malik bin Dinar mengatakan, “Tidak ada kelezatan selezat mengingat Allah.”

Ada ulama salaf yang mengatakan, “Pada malam hari orang-orang gemar sholat malam itu merasakan kelezatan yang lebih daripada kelezatan yang dirasakan oleh orang yang bergelimang dalam hal yang sia-sia. Seandainya bukan karena adanya waktu malam tentu aku tidak ingin hidup lebih lama di dunia ini.”

Ulama’ salaf yang lain mengatakan, “Aku berusaha memaksa diriku untuk bisa sholat malam selama setahun lamanya dan aku bisa melihat usahaku ini yaitu mudah bangun malam selama 20 tahun lamanya.”

Ulama salaf yang lain mengatakan, “Sejak 40 tahun lamanya aku merasakan tidak ada yang mengganggu perasaanku melainkan berakhirnya waktu malam dengan terbitnya fajar.”

Ibrahim bin Adham mengatakan, “Seandainya para raja dan para pangeran mengetahui bagaimana kebahagiaan dan kenikmatan tentu mereka akan berusaha merebutnya dari kami dengan memukuli kami dengan pedang.” Ada ulama salaf yang lain mengatakan, “Pada suatu waktu pernah terlintas dalam hatiku, sesungguhnya jika penghuni surga semisal yang kurasakan saat ini tentu mereka dalam kehidupan yang menyenangkan.”

Imam Ibnul Qoyyim bercerita bahwa, “Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan: ‘Sesungguhnya dalam dunia ini ada surga. Barang siapa belum pernah memasukinya maka dia tidak akan memasuki surga diakhirat kelak.’” Wallahu a’laam.

(Diterjemahkan dengan bebas dari As Sa’adah, Haqiqatuha shuwaruha wa asbabu tah-shiliha, cet. Dar. Al Wathan)

(Makalah Studi Islam Intensif 2005)

***

Disusun oleh: Ustadz Abu Ukkasyah Aris Munandar
Artikel www.muslim.or.id

Cinta Seorang Ayah

Setahuku, botol acar besar itu selalu ada di lantai di samping lemari di kamar orangtuaku. Sebelum tidur, Ayah selalu mengosongkan kantong celananya lalu memasukkan semua uang recehnya ke dalam botol itu. Sebagai anak kecil, aku senang mendengar gemerincing koin yang dijatuhkan ke dalam botol itu. Bunyi gemericingnya nyaring jika botol itu baru terisi sedikit. Nada gemerincingnya menjadi rendah ketika isinya semakin penuh. Aku suka jongkok di lantai di depan botol itu, mengagumi keping-keping perak dan tembaga yang berkilauan seperti harta karun bajak laut ketika sinar matahari menembus jendela kamar tidur.

Jika isinya sudah penuh, Ayah menuangkan koin-koin itu ke meja dapur, menghitung jumlahnya sebelumnya membawanya ke bank. Membawa keping-keping koin itu ke bank selalu merupakan peristiwa besar. Koin-koin itu ditata rapi di dalam kotak kardus dan diletakkan di antara aku dan Ayah di truk tuanya. Setiap kali kami pergi ke bank, Ayah memandangku dengan penuh harap. “Karena koin-koin ini kau tidak perlu kerja di pabrik tekstil. Nasibmu akan lebih baik daripada nasibku. Kota tua dan pabrik tekstil disini takkan bisa menahanmu.” Setiap kali menyorongkan kotak kardus berisi koin itu ke kasir bank, Ayah selalu tersenyum bangga. “Ini uang kuliah putraku. Dia takkan bekerja di pabrik tekstil seumur hidup seperti aku.”.

Pulang dari bank, kami selalu merayakan peristiwa itu dengan membeli es krim. Aku selalu memilih es krim cokelat. Ayah selalu memilih yang vanila. Setelah menerima kembalian dari penjual es krim, Ayah selalu menunjukkan beberapa keping koin kembalian itu kepadaku. “Sampai di rumah, kita isi botol itu lagi..”

Ayah selalu menyuruhku memasukkan koin-koin pertama ke dalam botol yang masih kosong. Ketika koin-koin itu jatuh bergemerincing nyaring, kami saling berpandangan sambil tersenyum. “Kau akan bisa kuliah berkat koin satu penny, nickle, dime, dan quarter,” katanya. “Kau pasti bisa kuliah. ayah jamin.”

Tahun demi tahun berlalu. Aku akhirnya memang berhasil kuliah dan lulus dari universitas dan mendapat pekerjaan di kota lain. Pernah, waktu mengunjungi orangtuaku, aku menelepon dari telepon di kamar tidur mereka. Kulihat botol acar itu tak ada lagi. Botol acar itu sudah menyelesaikan tugasnya dan sudah di pindahkan entah ke mana. Leherku serasa tercekat ketika mataku memandang lantai di samping lemari tempat botol acar itu biasa di letakkan.

Ayahku bukan orang yang banyak bicara, dia tidak pernah menceramahi aku tentang pentingnya tekad yang kuat, ketekunan, dan keyakinan. Bagiku, botol acar itu telah mengajarkan nilai-nilai itu dengan lebih nyata daripada kata-kata indah.

Setelah menikah, kuceritakan kepada Susan, istriku, betapa pentingnya peran botol acar yang tampaknya sepele itu dalam hidupku. Bagiku, botol acar itu melambangkan betapa besarnya cinta Ayah padaku. Dalam keadaan keuangan sesulit apa pun, setiap malam Ayah selalu mengisi botol acar itu dengan koin. Bahkan di musim panas ketika ayah diberhentikan dari pabrik tekstil dan Ibu terpaksa hanya menyajikan buncis kalengan selama berminggu-minggu, satu keping pun tak pernah di ambil dari botol acar itu. Sebaliknya, sambil memandangku dari seberang meja dan menyiram buncis itu dengan saus agar ada rasanya sedikit, Ayah semakin meneguhkan tekadnya untuk mencarikan jalan keluar bagiku. “Kalau kau sudah tamat kuliah,” katanya dengan mata berkilat-kilat, “kau tak perlu makan buncis kecuali jika kau memang mau.”

Liburan Natal pertama setelah lahirnya putri kami Jessica, kami habiskan di rumah orangtuaku. Setelah makan malam, Ayah dan Ibu duduk berdampingan di sofa, bergantian memandangku cucu pertama mereka. Jessica menagis lirih. Kemudian susan mengambilnya dari pelukan Ayah. “Mungkin popoknya basah,” kata Susan, lalu dibawanya Jessica ke kamar tidur orangtuaku untuk di ganti popoknya. Susan kembali ke ruang keluarga denga mata berkaca-kaca. Dia meletakkan Jessica ke pangkuan Ayah, lalu menggandeng tanganku dan tanpa berkata apa-apa mengajakku ke kamar.

“Lihat,” katanya lembut, matanya memandang lantai di samping lemari. Aku terkejut. Di lantai, seakan tidak pernah di singkirkan, berdiri botol acar yang sudah tua itu. Di dalamnya ada beberapa keping koin. Aku mendekati botol itu, merogoh saku celanaku, dan mengeluarkan segenggam koin. Dengan perasaan haru, kumasukkan koin-koin itu kedalam botol. Aku mengangkat kepala dan melihat Ayah. Dia menggendong Jessica dan tanpa suara telah masuk ke kamar. Kami berpandangan. Aku tahu, Ayah juga merasakan keharuan yang sama.. Kami tak kuasa berkata-kata.

Kerabat Imelda, Ini sebuah cerita yang menunjukkan besarnya cinta seorang ayah ke anaknya agar anaknya memperoleh nasib yang jauh lebih baik dari dirinya. Tetapi dalam prosesnya, Ayah ini tidak saja menunjukkan cintanya pada anaknya tetapi juga menunjukkan sesuatu yang sangat berharga yaitu pelajaran tentang impian, tekad, teladan seorang ayah, disiplin dan pantang menyerah. Saya percaya anaknya belajar semua itu walaupun ayahnya mungkin tidak pernah menjelaskan semua itu karena anak belajar jauh lebih banyak dari melihat tingkah laku orangtuanya dibanding apa yang dikatakan orangtuanya.

dari milis motivasi

Terima kasih Q padamu ayahandaku tercinta…. mari kita liat suritauladan apakah yg dapat kita pelakajari dari kedua orang tua kita… tanpa orang tua berucap terus menerus kepada kita..kita liat tindakan apa yang pantas kita tiru untuk menuju hidup yg lebih baik.

Previous Older Entries

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.