Iman tak dapat diwarisi

Iman adalah mutiara
Di dalam hari manusia
Yang menyakini Allah
Maha Esa Maha Kuasa

Tanpamu iman bagaimanalah
Merasa diri hamba padaNya
Tanpamu iman bagimanalah
Menjadi hamba Allah yang bertaqwa

Iman tak dapat diwarisi
Dari seorang ayah yang bertaqwa
Ia tak dapat dijual beli
Ia tiada di tepian pantai

Walau apapun caranya jua
Engkau mendaki gunung yang tinggi
Engkau merentas lautan api
Namun tak dapat jua dimiliki
Jika tidak kembali pada Allah

Seperti itulah kiranya gambaran tentang makna keimanan. Ambilah contoh kecil di lingkungan sekitar kita. Seorang ayah yang dengan zuhudnya menjalani hidup, begitu ikhlasnya mengarungi kehidupan, begitu sabarnya menapaki jalan kehidupan, begitu dekatnya dia dengan yang memberinya kehidupan, tapi siapa yang bisa menjamin kalau keturunannya akan mewarisi sifat dan perilaku si ayah tersebut? Tidak ada bukan? dan begitu juga sebaliknya, seorang anak yang tumbuh di lingkungan yang serba tidak baik, justru dia dapat hidup dengan baik, dekat dengan sang penciptanya…

Begitulah keimanan, tak dapat diwarisi oleh siapapun, sekalipun ada hubungan darah yang begitu erat. Iman yang membentuk adalah diri kita sendiri. Iman akan Alloh akan mengantarkan kita pada kebaikan, kebaikan yang akan membawa kita pada akhir yang membahagiakan.

Saudaraku, mudah-mudahan Alloh senantiasa memberikan kebaikan dalam setiap hidup kita, meneguhkan keimanan dalam diri kita sampai Alloh memanggil kita.

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.