Iman tak dapat diwarisi
21 Apr 2011 Tinggalkan sebuah Komentar
Iman adalah mutiara
Di dalam hari manusia
Yang menyakini Allah
Maha Esa Maha Kuasa
Tanpamu iman bagaimanalah
Merasa diri hamba padaNya
Tanpamu iman bagimanalah
Menjadi hamba Allah yang bertaqwa
Iman tak dapat diwarisi
Dari seorang ayah yang bertaqwa
Ia tak dapat dijual beli
Ia tiada di tepian pantai
Walau apapun caranya jua
Engkau mendaki gunung yang tinggi
Engkau merentas lautan api
Namun tak dapat jua dimiliki
Jika tidak kembali pada Allah
Seperti itulah kiranya gambaran tentang makna keimanan. Ambilah contoh kecil di lingkungan sekitar kita. Seorang ayah yang dengan zuhudnya menjalani hidup, begitu ikhlasnya mengarungi kehidupan, begitu sabarnya menapaki jalan kehidupan, begitu dekatnya dia dengan yang memberinya kehidupan, tapi siapa yang bisa menjamin kalau keturunannya akan mewarisi sifat dan perilaku si ayah tersebut? Tidak ada bukan? dan begitu juga sebaliknya, seorang anak yang tumbuh di lingkungan yang serba tidak baik, justru dia dapat hidup dengan baik, dekat dengan sang penciptanya…
Begitulah keimanan, tak dapat diwarisi oleh siapapun, sekalipun ada hubungan darah yang begitu erat. Iman yang membentuk adalah diri kita sendiri. Iman akan Alloh akan mengantarkan kita pada kebaikan, kebaikan yang akan membawa kita pada akhir yang membahagiakan.
Saudaraku, mudah-mudahan Alloh senantiasa memberikan kebaikan dalam setiap hidup kita, meneguhkan keimanan dalam diri kita sampai Alloh memanggil kita.